



Sahabat,
Segala waktu yang melesat seperti anak panah
dan lepas bagai padang-padang sungai yang jernih
bergulir dan menghidupkan kita bait demi bait
(seperti juga tentang segala gelak, perjalanan,
perjumpaan dan kaca-kaca bening yang pernah ternikmati)
Aku tahu,
Puisi adalah jendela jiwa
Sekarang kau bicara tentang kekeringan, kegelisahan kata,
kengerian yang membalut disetiap tidurmu.
Padang-padang hatimu mulai membayangi tentang kesepian dalam
sendirimu,
mulai membayangi tentang segala puisi yang hambar jiwa,
dan segala kata yang mulai luntur maknanya.
(percayalah,
puisimu dan segala kata yang terbalut makna
akan terus hidup pada mereka yang teristimewa!)
puisimu akan terus mengalir
ia akan bergulir dengan manisnya
Perjalanan ini tidak hanya sepanjang cemara
Segala asa berdetak terus dalam pusaran waktu
(seperti juga semua kelampauan
untuk romansa-romansamu)
kLo nge blok jangan kasar2 donk...
nyantai aja
PERSAHABATAN KITA
Cerita oleh Nadya Trinova
Dita menaruh tas di kursinya. Seperti biasa, sahabatnya sudah datang terlebih dahulu.
Maklum, sahabatnya yang satu itu rumahnya sangat dekat dari sekolah. Namanya Via.
Sahabatnya tak hanya Via seorang. Masih ada yang lain. Yaitu Dina dan Shira.
Mereka berempat sama-sama jomblo, kecuali Shira. Apalagi pacar Shira juga merupakan cowok TER-cakep di sekolah yang punya rating tinggi. Namanya Dio.
Dan mereka sama-sama anak tunggal. Maksudnya, hanya Dina yang memiliki kakak cowok yang ganteng. Alhasil, Dita, Via, dan Shira pun iri.
But still, Dina pribadi sih ngaku kalau punya kakak itu nggak enak. Apalagi kalau cowok, waduuh... bisa dijailin abis-abisan ama tuh cowok.
Dina menghampiri Via yang sedang mengobrol dengan Dina. Pasti masalah cheers, pikir Dita.
"Hai! Pada ngomong apaan loe? Pasti ngomongin soal cheers," terka Dita.
"Hhmm... iya. Loe kok tau? Nggak biasanya loe to the point kayak gini," kata Via heran.
"Ya tau dong! Soalnya gue juga punya masalah nih, kayaknya masalah TERBESAR DI ABAD INI!!" suara Dita meninggi.
"Ya ampuun... ampe segitunya?" kata Via heran.
"IYA! Loe kekurangan anggota cheers, kan? Nah, masalah yang gue hadepin ini... LEBIH DARI ITU!" teriak Dita sampai membuat Via dan Dina menutup telinga karena budeg.
"Iye, iye! Cepetan ceritain! To the point aja!" pinta Via.
"Iya! Gini lho, gue heran... kenapa sih, banyak cowok ngelirik kita?"ucap Dita heran.
"Lho?! Kalau banyak dilirik... bukannya bagus?" tanya Dina, lalu melanjutkan, "Apalagi, gue, Via, ama loe juga jomblo. Kalau gitu... bagus, dong?"
"Emang... tapi kenapa ya gue nyamannya kalau menjomblo?" kata Dita sambil menatap langit-langit.
"Itu kan yang udah biasa menjomblo. Udah deh, saatnya membuka diri kita. Mumpung masih ada peluang. Iya nggak?" kata Via, sambil melirik Dio yang sedang berjalan dengan centil.
"Yaa, terserah loe deh Vi!" kata Dita menyerah. Tak lama, bel masuk berbunyi.***
Pulang sekolah. Anak-anak SMU 82 segera berhamburan keluar kelas. Hari ini hari Sabtu, cewek-cewek yang terkenal centil di sekolah mereka langsung JJS bareng teman-teman cowoknya. Sedangkan Dita, Via, Dina dan Shira memilih jalan-jalan bareng. Prinsip mereka adalah : Girlfriend stay forever!
"Nggak sama cowok loe, Ra?" goda Via membuka pembicaraan.
"Apa sih loe, Vi! Gue emang nggak jalan-jalan ama cowok gue, abisan dia banyak tugas gitu deh. Makanya dia nggak jalan-jalan ama gue, takutnya tugasnya itu numpuk," jelas Shira. Tampak sedikit kekecewaan terlihat di wajah cantik Shira.
"Oooh, bahagianya diriku. Karena hari ini, loe mau gue traktir. Hari ini gue sweet seventeen,so I want to celebrate my birthday, with you, my lovely friend!" kata Dita gembira.
"Apa? Hari ini loe sweet seventeen? Waa... happy birthday, dear! I'm sorry I cant give you a present," kata Via heboh.
"OK, thanks dear! Sekarang loe-loe pada ke rumah gue yuk! Nanti gue pinjemin baju keren. Mau gak?" tawar Dita.
"OK!! C'mon dear, let's go!" ajak Via semangat.***
Birthday party-nya Dita- yang mirip-mirip private party berlangsung heboh, biarpun Dita hanya mentraktir sahabat-sahabatnya makan-makan di Pizza Hut, namun heboh sekali! Mereka ngobrol-ngobrol, apalagi waktu itu banyak cowok-cowok yang ganteng. Mereka berbisik.
"Eh eh... ada cowok ganteng tuuh..." kata Dina iseng.
"Iya..." balas Via.
Mereka tertawa bersama, hampir ngakak.
Tiba-tiba Shira berhenti tertawa. Pandangannya tertuju ke suatu arah.
"Heh, Ra, kok loe berhenti ketawa?" tanya Dita heran.
"A...aa..da Dio..."kata Shira terbata-bata.
"Hah? Masa sih?" kata Via, lalu ia melihat ke lain arah. Ia melihat Dio yang terlihat merangkul seorang cewek dengan begitu mesra. Apalagi, mereka hanya berdua. Parahnya, mereka tak memerhatikan keberadaan Shira!
Shira tak dapat menahan tangisnya. Refleks, Shira berlari meninggalkan tempat itu.
"SHIRA!"teriak Via sekeras mungkin. Namun sayangnya, Shira sudah pergi meninggalkan tempat itu dengan air mata yang begitu meleleh.***
Senin, istirahat sekolah, jam 09.55
Dita berjalan lemas menuju kantin. Shira hari ini masuk, namun ia tak mau cerita bagaimana hubungannya dengan Dio.
Dita ke stan bakso. Ia menyerahkan uang Rp.5000,- ke penjual bakso itu. Tiba-tiba, ia melihat ketiga sahabatnya. Ada Shira! Pasti ngomongin Shira ama Dio.
Dita menghampiri teman-temannya.
"Hai! Pada ngomongin apa sih?" tanya Dita. Ia meletakkan mangkuk baksonya di meja kantin.
"Biasa. Shira and her love! She broke up with Dio, and she so sad, of course!" kata Via to the point.
"Hah? Ra? Loe putus ama Dio?" kata Dita. Yah, biarpun tadi dia sudah menyangka, pasti beginilah jadinya!
"Iya. Kita putus hari itu juga. Gue yang nelpon Dio, tapi gue gak langsung marah-marahin dia, tapi gue nanya dulu, hubungannya ama tuh cewek kayak gimana. Apa cuma temenan, sahabatan, atau malah pacaran! Ternyata, hubungan Dio sama cewek itu memang baru hari Jumat, tapi mereka udah sayaang banget. Makanya gue akhirnya mutusin dia. Gue nggak mau diduain kayak gitu!" kata Shira tertahan.
Dita, Via dan Dina menatap Shira sungguh-sungguh. Mereka sangat merasakan apa yang Shira rasakan.
"But still... gue rasa gue lebih patah hati kalau gue kehilangan kalian. Gue ngerasa, kalau sahabat itu lebih abadi. Gue ngerasa, hidup gue nggak akan kayak gini tanpa kalian," kata Shira sambil menatap ketiga sahabatnya dengan sayang.
"Iya. We are best friend... forever and ever," kata Via.
Mereka berangkulan menuju kelas. Ah, orang lain memang bisa datang ke hidup kita dan boleh pergi ke hati orang lain yang ia mau. Namun, sahabat sejati tidak bisa diganti, dan tidak akan pergi.
The End
Cuaca panas diledakkan oleh teriakan seorang ibu dari sebuah halte bis.
“ Jambret!” Teriaknya. Ibu itu setengah gila, meronta-ronta, melompat-lompat.
Orang-orang terperangah, lirik kiri- kanan, mencari-cari. Ya, pak Polisi gagah datang, pistol mendongak.
” Jambret….!” Ibu itu menunjuk-nunjuk, seseorang berlari kencang membawa sebuah tas kulit. Pak Polisi gagah itu pun mengejarnya. Pistol mulai keluar, diacungkan.
” Berhenti….!” Duarrrr….suara pistol meledak. Udara belah.
Jambret sial sialan itu berhenti. Pasti. Takut.
” Angkat tangan…! Buka topengmu goblok!”
Penjambret sial sialan itu mengangkat tangan, membuka topeng.
” Kkkkkkkkau!” Tunjuk pak Polisi gagah..” Ahaa….kau si Juned! Sahabat lamaku!?”
” Halah…Kkkkkau si Safri…sahabat lamaku!”
” Sini biar kuambil tas kulit itu!”
Kemudian mereka berpelukkan, sahabat lama yang sudah puluhan tahun tidak jumpa. Tas kulit diberikan kepada si ibu. Si ibu bukan main memberi hormat dan salam secara berlebihan kepada pak Polisi gagah.
” kau..ikut aku ke kantor Polisi…Juned!”
” Oke….!”
Di kantor polisi JUned mendapat perlakuan istimewa. Ia dikurung dalam kerangkeng khusus, diberi fasilitas istimewa, ada kamar mandinya, ada kasur empuknya, membuat tahanan lain iri kepadanya.
” Sahabat…besok pengadilanmu akan dilaksanakan…!”
” Oke, sahabat lamaku!” Bukan main bahagianya Juned.
Ruang pengadilan biasa-biasa saja, karena kasus nya bukan kasus selebritis. Pengacara Juned namanya si Paruntungan Hasibuan , masih sama, sahabat lama si Juned..
Pak Hakim masuk.
” Oalaaaaa……!” Mata Pak Hakim yang sifit itu terbelalak tajam ketika melihat terdakwa. ” Kkkkkau…si Juned…Sahabat Lamaku…!”
” Halahhh….kau…si Norman, sahabat Lamaku…!”
” Lama kita tak bersua ya?”
” Ya, memang cukup lama, Kau si Paruntungan Hasibuan!” Pak Hakim menunjuk pengacara si Juned. Pak polisi gagah pun masuk, datang agak telat memang,ingin menyaksikan jalannya pengadilan.
” Haaa? Kkkkkau….si Jefrii…!?” Teriak Pak Hakim kegirangan.
Pada akhirnya ruang sidang itu dipenuhi oleh gelak tawa dan pembicaraan masa lalu. Kenangan. Masa-masa SMA.
” Nostalgia…SMA kitaaaaaa…..!” Teriak mereka, sambil memukul-mukulkan palu pada meja.